Ook Nugroho lahir
di Jakarta, 7 April 1960. Puisi-puisinya
banya menceritakan puisi itu sendiri, sehingga ia sering disebut pembela sajak.
Atau pahlawan sajak. Berikut puisi karya Ook:
Pelajaran Pertama Menulis Sajak
:
Frida Nathania
Untuk
menulis sajak, kita tak perlu
Meja
yang lapang, pun tak butuh liur bir
Guna
merangsang sang syair terlahir
Dari
kelangkang takdirnya kelabu
Tapi
mungkin kita perlukan sunyi
(Barangkali
dalam secangkir kopi):
Kelam,
pekat, mengepul dari pori bumi
Dari
kolong waktu yang kenyang dilukai
Jadi
kita akan duduk bersama, merenungi
Di
meja lapuk yang tak teramat luas ini
Memutuskan
sesudah merundingkannya masak
Kata-kata
terbaik bagi sebuah sajak
2010
***
Dalam setiap sajak
Dalam
setiap sajak
Selalu
ada bayangan
Seorang
lelaki yang gemar berlagak
Dan
mengaku saya
Seteru
pun sekutuku berseru
Sungguh
betapa ia mirip
Lihat
gayanya berjalan
Yang
limbung di antara awan-gemawan
Wajahnya
memang samar
Sebab
derai hujan dan kelebat topan
Kerap
menaungi arah pandangnya
Yang
ditumbuhi ilalang petang
Ia
juga gemar
Memainkan
waktu di tangannya
Mengubah
warna-warni musim
Menukarnya
dengan raut malam yang pejam
Aku
tak pernah tahu
Sesungguhnya
ia siapa
Setiap
kali kutanya ia tertawa
Seraya
lindap nyelinap ke dalam kata
2010
***
Tengah Kumasuki Malam
Tengah
kumasuki malam
Dari
mana sajakmu bermula
Tanganku
meraba judul
Ingin
memindai parasmu
Di
sana kujumpai bulan
Pelan
berlayar dari kata ke kata
Bayangan
musim yang tak utuh lagi
Menggasing
dalam gelap
Tengah
kususuri kelam
Ke
mana kutahu jejakmu berbelok
Lalu
seakan raib, sesudah baris
Yang
menandaimu dengan derai gerimis
2010
***
Batuk
Jauh
di kolong rongga
Ada
suara bertalu-talu
Seorang
yang lama menunggu
Terus
menggedor mencari jalan keluar
Kalau
saja aku bisa menolongnya –
Tapi
hanya kupunya sedikit kata
Itu
pun terganjal dahak waktu
Mengental
jadi jarak yang kekal
Seorang
yang lama mencari
Gemanya
tertahan di bawah rongga
Seperti
tak asing bagiku ia siapa
Seperti
padaku parau ia memanggil
2010
***
Agar Menjadi Kisah
Agar
menjadi kisah
Kau
harus menjadi sungai
Bersekutu
dengan musim
Dengan
cuaca sepanjang tebing
Agar
menjadi sungai
Kau
harus kembali
Ke
puncak sepi berkabut itu
Menemukan
sumber awal tak terduga
Alasan-alasan
tersembunyi
Di
belakang setiap desah bunyi
Isyarat-isyarat
kekal purba
Di
sebalik rerimbun waktu
Agar
memahami waktu
Akar-akarnya
yang menjalar
Pada
setiap lembar halaman kisah
Kau
harus menjelma huruf-hurufnya
2010
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar