Kamis, 17 Maret 2016

Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar



Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 26 Juli 1922 dan meninggal pada tanggal 28 April 1949 pada umur 26 tahun. Ia dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" ini karena sebuah karya fenomenal yang ia beri judul "Aku". Berikut adalah karya-karyanya:


AKU 
Kalau sampai waktuku 
'Ku mau tak seorang kan merayu 
Tidak juga kau 
Tak perlu sedu sedan itu 
Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang k
Biar peluru menembus kulitku 
Aku tetap meradang menerjang 
Luka dan bisa kubawa berlari 
Berlari 
Hingga hilang pedih peri 
Dan aku akan lebih tidak perduli 
Aku mau hidup seribu tahun lagi 

PRAJURIT JAGA MALAM 
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ? 
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, 
bermata tajam 
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya 
kepastian 
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini 
Aku suka pada mereka yang berani hidup 
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam 
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu...... 
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! 


MALAM 
Mulai kelam 
belum buntu malam 
kami masih berjaga 
--Thermopylae?- 
- jagal tidak dikenal ? - 
tapi nanti 
sebelum siang membentang 
kami sudah tenggelam hilang 
Zaman Baru,  No. 11-12  20-30 Agustus 1957 

KRAWANG-BEKASI 
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi 
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. 
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, 
terbayang kami maju dan mendegap hati ? 
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. 
Kenang, kenanglah kami. 
Kami sudah coba apa yang kami bisa 
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa 
Kami cuma tulang-tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaanmu 
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan 
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 
atau tidak untuk apa-apa, 
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 
Kaulah sekarang yang berkata 
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kenang, kenanglah kami 
Teruskan, teruskan jiwa kami 
Menjaga Bung Karno 
menjaga Bung Hatta 
menjaga Bung Sjahrir 
Kami sekarang mayat 
Berikan kami arti 
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 
Kenang, kenanglah kami 
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu 
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi 

(1948) 
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957 

DIPONEGORO 
Di masa pembangunan ini 
tuan hidup kembali 
Dan bara kagum menjadi api 
Di depan sekali tuan menanti 
Tlak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. 
Pedang di kanan, keris di kiri 
Berselempang semangat yang tak bisa mati. 
MAJU 
Ini barisan tak bergenderang-berpalu 
Kepercayaan tanda menyerbu. 
Sekali berarti 
Sudah itu mati. 
MAJU 
Bagimu Negeri 
Menyediakan api. 
Punah di atas menghamba 
Binasa di atas ditindas 
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai 
Jika hidup harus merasai 
Maju 
Serbu 
Serang 
Terjang 

(Februari 1943) 
Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954
 

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO 
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji 
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu 
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu 
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu 
Aku sekarang api aku sekarang laut 
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat 
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar 
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh 

(1948) 
Liberty, Jilid 7, No 297, 1954 
Thursday, April 03, 2003
 

PENERIMAAN 
Kalau kau mau kuterima kau kembali 
Dengan sepenuh hati 
Aku masih tetap sendiri 
Kutahu kau bukan yang dulu lagi 
Bak kembang sari sudah terbagi 
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani 
Kalau kau mau kuterima kembali 
Untukku sendiri tapi 
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi. 

Maret 1943 

HAMPA 
kepada sri 
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak. 
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak 
Sampai ke puncak. Sepi memagut, 
Tak satu kuasa melepas-renggut 
Segala menanti. Menanti. Menanti. 
Sepi. 
Tambah ini menanti jadi mencekik 
Memberat-mencekung punda 
Sampai binasa segala. Belum apa-apa 
Udara bertuba. Setan bertempik 
Ini sepi terus ada. Dan menanti. 

DOA 
kepada pemeluk teguh 
Tuhanku 
Dalam termangu 
Aku masih menyebut namamu 
Biar susah sungguh 
mengingat Kau penuh seluruh 
cayaMu panas suci 
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi 
Tuhanku 
aku hilang bentuk 
remuk 
Tuhanku 
aku mengembara di negeri asing 
Tuhanku 
di pintuMu aku mengetuk 
aku tidak bisa berpaling 

13 November 1943 

SAJAK PUTIH 
Bersandar pada tari warna pelangi 
Kau depanku bertudung sutra senja 
Di hitam matamu kembang mawar dan melati 
Harum rambutmu mengalun bergelut senda 
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba 
Meriak muka air kolam jiwa 
Dan dalam dadaku memerdu lagu 
Menarik menari seluruh aku 
Hidup dari hidupku, pintu terbuka 
Selama matamu bagiku menengadah 
Selama kau darah mengalir dari luka 
Antara kita Mati datang tidak membelah... 

SENJA DI PELABUHAN KECIL 
buat: Sri Ajati 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta 
di antara gudang, rumah tua, pada cerita 
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut 
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut 
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang 
menyinggung muram, desir hari lari berenang 
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak 
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. 
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan 
menyisir semenanjung, masih pengap harap 
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan 
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 

1946 

CINTAKU JAUH DI PULAU 
Cintaku jauh di pulau, 
gadis manis, sekarang iseng sendiri 
Perahu melancar, bulan memancar, 
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. 
angin membantu, laut terang, tapi terasa 
aku tidak 'kan sampai padanya. 
Di air yang tenang, di angin mendayu, 
di perasaan penghabisan segala melaju 
Ajal bertakhta, sambil berkata: 
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja," 
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! 
Perahu yang bersama 'kan merapuh! 
Mengapa Ajal memanggil dulu 
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! 
Manisku jauh di pulau, 
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri. 

1946 

MALAM DI PEGUNUNGAN 
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, 
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? 
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: 
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! 

1947 

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 
kelam dan angin lalu mempesiang diriku, 
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, 
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu 
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin 
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang 
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; 
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang 
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku 

1949 

DERAI DERAI CEMARA 
cemara menderai sampai jauh 
terasa hari akan jadi malam 
ada beberapa dahan di tingkap merapuh 
dipukul angin yang terpendam 
aku sekarang orangnya bisa tahan 
sudah berapa waktu bukan kanak lagi 
tapi dulu memang ada suatu bahan 
yang bukan dasar perhitungan kini 
hidup hanya menunda kekalahan 
tambah terasing dari cinta sekolah rendah 
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan 
sebelum pada akhirnya kita menyerah 
1949 
~~~
Dengan Mirat 
Kamar ini jadi sarang penghabisan 
di malam yang hilang batas 
Aku dan engkau hanya menjengkau 
rakit hitam 
'Kan terdamparkah 
atau terserah 
pada putaran hitam? 
Matamu ungu membatu 
Masih berdekapankah kami atau 
mengikut juga bayangan itu

1946 
Di Masjid 
Kuseru saja Dia 
sehingga datang juga 
Kamipun bermuka-muka 
seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada 
Segala daya memadamkannya 
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda 
Ini ruang 
gelanggang kami berperang 
Binasa membinasa 
satu menista lain gila 
Maju 
Ini barisan tak bergenderang-berpalu 
Kepercayaan tanda menyerbu. 
Sekali berarti 
Sudah itu mati. 
MAJU 
Bagimu Negeri 
Menyediakan api. 
Punah di atas menghamba 
Binasa di atas ditindas 
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai 
Jika hidup harus merasai 
Maju 
Serbu 
Serang 
Terjang 
Februari 1943 
 
Malam Di Pegunungan 
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, 
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? 
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: 
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947 
Nisan 
Bukan kematian benar menusuk kalbu 
Keridhaanmu menerima segala tiba 
Tak kutahu setinggi itu di atas debu 
Dan duka maha tuan tak bertahta. 
 
Rumahku 
Rumahku dari unggun-unggun sajak 
Kaca jernih dari segala nampak 
Kulari dari gedung lebar halaman 
Aku tersesat tak dapat jalan 
Kemah kudirikan ketika senjakala 
Dipagi terbang entah kemana 
Rumahku dari unggun-unggun sajak 
Disini aku berbini dan beranak 
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang 
Aku tidak lagi meraih petang 
Biar berleleran kata manis madu 
jika menagih yang satu

April 1943 
 
Sajak Putih 
buat tunanganku Mirat 
Bersandar pada tari warna pelangi 
kau depanku bertudung sutra senja 
di hitam matamu kembang mawar dan melati 
harum rambutmu mengalun bergelut senda 
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba 
meriak muka air kolam jiwa 
dan dalam dadaku memerdu lagu 
menarik menari seluruh aku 
hidup dari hidupku, pintu terbuka 
selama matamu bagiku menengadah 
selama kau darah mengalir dari luka 
antara kita Mati datang tidak membelah... 
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri, 
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini! 
Kucuplah aku terus, kucuplah 
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

1944 
Senja Di Pelabuhan Kecil 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta 
di antara gudang, rumah tua, pada cerita 
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut 
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut 
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang 
menyinggung muram, desir hari lari berenang 
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak 
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. 
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan 
menyisir semenanjung, masih pengap harap 
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan 
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 
1946 
 
Tjerita Buat Dien Tamaela 
Beta Pattiradjawane 
jang didjaga datu datu 
Tjuma satu 
Beta Pattiradjawane 
kikisan laut 
berdarah laut 
beta pattiradjawane 
ketika lahir dibawakan 
datu dajung sampan 
beta pattiradjawane pendjaga hutan pala 
beta api dipantai,siapa mendekat 
tiga kali menjebut beta punja nama 
dalam sunyi malam ganggang menari 
menurut beta punya tifa 
pohon pala, badan perawan djadi 
hidup sampai pagi tiba 
mari menari ! 
mari beria ! 
mari berlupa ! 
awas ! djangan bikin bea marah 
beta bikin pala mati, gadis kaku 
beta kirim datu-datu ! 
beta ada dimalam, ada disiang 
irama ganggang dan api membakar pulau ....... 
beta pattiradjawane 
jang didjaga datu-datu 
tjuma satu

Demikian beberapa puisi karya-karya Chairil Anwar, baca juga:
1. 
2. 
3.
4. 
5. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar