Agus R. Sarjono dikenal
sebagai penyair dan novelis, dan penulis esai sastra yang telah dipublikasi di
berbagai media masa. Agus lahir di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 27 Juli
1962. Berikut puisi-puisi karya Agus R. Sarjono:
Di Apartemen Erick
Di apartemen
tingkat sepuluh,
di pinggiran
Utrecht bintang-bintang tak kelihatan.
Tapi
lampu-lampu kota berkedipan bagai kunang di jauhan.
Di luar badai
salju dan angin kencang.
Kami lepas
mantel dan hati yang tegang.
Erick, Inggrid,
Nenden, Karen dan Medelin saling berpandangan,
menghirup teh
panas
membuka buku
puisi dan memetik gitar.
Kami nyanyikan
lagu-lagu lama.
Nyiur hijau di
tepian pantai yang jauh, desaku
wahai desaku
yang kucinta tanah air beta.
Sambil mengusap
airmata, seperti mengusap luka
dan sakit yang
purba,
Medelin
melenguh diam-diam
Sudah berlayar
jauh kemari
ooh jauh
kemari, tanah Ambon
wahai tanah
Ambon selalu saja berdebur dalam ingatan.
Tapi malam
telah kelewat dalam.
Di bawah badai
salju kami berarak menuju halte sambil berseru
Que sera-sera,
apa yang bakal terjadi biar terjadi
Kamipun faham
akhirnya.
Tanah air abadi
selalu serupa mimpi.
Negeri-negeri
yang dicintai,
kenangan-kenangan
lama yang enggan mati.
Di dalam kereta
kami biasakan diri
menjalani patah
hati ini.
1999
***
Di Sebuah Restoran Indonesia, Juni 1998
Berilah kami
sepiring makanan, dengan menu bergizi.
Maafkan kami.
Sudah lama
restoran kami tidak menyediakan lagi nasi, apalagi lauk pauk.
Lalu apa yang
bisa kami pesan?
Oh, Anda bisa
memesan semangkuk isu politik, misalnya.
Persediaan kami
lengkap:
isu-isu dingin
maupun isu panas.
Berilah kami
sepiring nasi dengan lauk pauk seadanya.
Maafkan kami,
jangan memesan yang aneh-aneh.
Semua itu
barang mewah.
Ingat ini jaman
krisis dan reformasi.
Cobalah memesan
yang lebih murah:
anarkhisme atau
partai politik.
Di sini
tersedia berbagai jenis partai
dari yang lunak
hingga yang keras.
Kami juga sedia
partai atau politisi instan.
Murah dan
meriah.
Bisa dibungkus
dan dibuka beramai-ramai di dalam rumah.
Sebagai pembuka
kami sajikan segelas
anggur
reformasi: segar dan penuh semangat.
Kalian bisa
berbicara dan mengutuk keadaan sekeras-kerasnya.
Nah, selamat
jalan.
Semoga Anda
jadi pahlawan.
1998
***
Demokrasi Dunia Ketiga
Kalian harus
demokratis. Baik, tapi jauhkan
tinju yang kau
kepalkan itu dari pelipisku
bukankah
engkau… Tutup mulut! Soal tinjuku
mau kukepalkan,
kusimpan di saku
atau
kutonjokkan ke hidungmu,
tentu
sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu
harus demokratis. Lagi pula
kita tidak
sedang bicara soal aku, tapi soal kamu
yaitu kamu
harus demokratis!
Tentu saja saya
setuju, bukankah selama ini
saya telah
mencoba… Sudahlah! Kami tak mau dengar
apa alasanmu.
Tak perlu berkilah
dan buang
waktu. Aku perintahkan kamu
untuk
demokratis, habis perkara! Ingat
gerombolan
demokrasi yang kami galang
akan melindasmu
habis. Jadi jangan macam-macam
Yang penting
kamu harus demokratis.
Awas kalau
tidak!
1998
Bersama para TKW
Aku memandang
wajah-wajah saudaraku
dengan mata
berembun
berbaris ke
negeri orang
ke negeri para
majikan.
Apakah yang
mereka renungkan?
Wajah para tuan
yang memungkinkan mereka naik
pesawat terbang
memperkenalkan
peradaban dunia, musim dan bendera
berbeda.
Atau mereka
bayangkan
tanah air
hamparan negeri dengan berbagai sebutan
dan lagu-lagu
yang ditanam guru-guru sekolah ke
dalam batin
Juga
potret-potret pahlawan yang mengabur
dan kini
digantikan orang-orang berbaju safari
dan pakaian
seragam
yang begitu
sering mondar-mandir di jalanan nasib
mereka.
Begitu royal
para petinggi itu
menghibahkan
berbagai perintah, pungutan dan
larangan
hingga
tiba-tiba semua orang menjadi akrab
dengan berbagai
macam kehilangan
Dari atas
pesawat,
kupandangi
hamparan tanah air hijau dan lapang,
namun begitu
sempit hingga mereka tak mampu
bahkan untuk
sekedar menarik nafas dan membangun
kehidupan.
Ketika waktu
makan tiba
kulihat begitu
lahap mereka santap sajian di
pesawat:
Ikan tuna saus
mentega,
nasi gurih
panas,
kue coklat krim
buah,
segelas sari
jeruk.
Seperti
hidangan raja-raja,
mungkin begitu
batin mereka.
Dan kini
kulihat mereka sepenuhnya
siap menjadi
sahaya di mana saja di dunia.
Di Jembatan Mirabeu
Di bawah
jembatan Mirabeu,
mengalir cinta
Appolonaire juga cemasku.
Kupandangi
langit biru
dan terbayang
kembali jembatan merah.
Siapa yang
mengecatnya dengan warna darah?
Kuteliti
pasporku, jejak-jejak gawat
dan kusam
tertera di sana,
jejak negeri
kerinduan
serupa bimbang
dan rindu dendam
luka-luka yang
terus dibikin dan dipendam.
Di bawah
jembatan Mirabeau, melaju sungai Seini
juga Bengawan
Solo di batinku yang rusuh
penuh mayat
yang terapung dan mengalir
sampai jauh,
bersama darah
yang tak
putus-putus tumpah di banyak tempat dan peristiwa.
Amisnya tercium
sampai kemari.
1999
***
Air Mata Hujan
Jangan bidikkan
aku, ronta Bedil sambil menggigil. Diam !
Bentak tangan.
Aku harus meledakkan anak-anak itu.
Tapi mereka
masih belia ! Lihatlah senyumnya yang muda
dan mereka
tidak meminta lain selain kesejahteraanmu juga.
Bukankah engkau
sering mengumpati gaji yang tak cukup
nafas hidup
yang sempit, hingga harus berderap kian kemari
mengutip sesuap
nasi
Jangan bidikkan
aku, raung Bedil. Diam ! Ini bukan persoalan
bukan persoalan
pribadi, hardik Tangan. Ini masalah politik.
Satu dua nyawa
sebagai taktik.
Tapi ini bukan soal angka,
bukan soal satu
dua
tapi soal ibu
meratap kehilangan, soal dimusnahkannya
satu kehidupan
soal masa depan
manusia yang dibekam. Soal hal……
Tutup mulutmu
barang dinas ! Kamu hanya alat
dan jangan
berpendapat. Itu urusan politisi di majelis sana
Tapi mereka
hanya bahagia ! Sergah Bedil.
Mereka
tak pernah
peduli padamu, pada mereka, pada yang miskin
dan teraniaya.
Mereka tak mengurusi siapa-siapa selain
dirinya. Dor !
Bedil itu
tersentak. Jangan …… Dor….dor…..dor….
dor……. Selesai
sudah
gumam tangan.
Bukankah ini sudah berlebihan, isak Bedil.
Entahlah, gumam
Tangan, aku tak tahu. Aku penat.
Aku hanya ingin
istirahat. Semoga istri dan anak-anakku
di rumah sana
semuanya selamat.
Bedil itu
menjelma hujan. Tak putus-putusnya
mencurahkan airmata.
1998
(Dibacakan di
Trisakti, 18 Juni 1998)
Demikian puisi-puisi karya Agus R. Sarjono. Baca juga:
1.
2.
3.
4.
5.

